Tari Turuk Laggai, Ritual Pemanggilan Roh Di Mentawai

· 2 min read
Tari Turuk Laggai

Tari Turuk Laggai berasal dari provinsi Sumatera Barat, tepatnya di pulau Mentawai. Eksistensinya memang tidak sepopuler tarian lainnya di Ranah Minang seperti Tari Piring, Pasambahan ataupun tari Payung, namun bagi warga Mentawai, keberadaannya selalu dilestarikan sebagai Budaya Bersejarah.

Seperti yang kita tahu bahwa, Mentawai dan Alam adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Mayoritas tradisi dan adat di sana pasti berkombinasi dengan hal yang berbau alamiah, tidak terkecuali Properti yang digunakan Tari Turuk Langgai ini. Berikut, ulasan lengkapnya untuk kamu semua.

Sejarah

Tarian asal Mentawai ini adalah salah satu kesenian tari yang kuat ikatannya dengan alam. Ini bisa tergambar dari gerakan Tari Turuk Laggai yang banyak diangkat dari lingkungan sekitar, tepatnya menirukan gerakan-gerakan hewan. Berdasarkan beberapa penelitian, tarian ini muncul pada sekitar abad ke-17, artinya sudah berusia lebih dari 300 tahun.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Mentawai memang kebanyakan menggantungkan hidupnya dengan berburu daripada menjadi nelayan. Sehingga, gerakan dalam tarian ini terinspirasi dari gerakan-gerakan hewan yang mereka temui di hutan ketika berburu.

Sejak awal kemunculannya, Tari Turuk Laggai menjadi bagian dari upacara pengobatan, yang melibatkan dukun (Sikerei). Prosesinya dilakukan pada malam hari, karena mereka percaya bahwa komunikasi antara roh gaib dengan para Sikerei akan berjalan lebih lancar. Seiring berkembang zaman, akhirnya sekarang tarian ini dijadikan hiburan.

Baca Juga : Tari Piring

Properti Tari Turuk Laggai

Tari Turuk Langgai asal mentawai
Dananwahyu.com

Berbicara mengenai Mentawai, mayoritas perayaan adat dan budaya di sana selalu mengangkat tema alam, begitu pula dengan Properti yang digunakan tari Turuk Langgai ini, diantaranya adalah manik-manik, dedaunan dan bulu unggas. Ketiga properti ini memiliki fungsi dan perannya masing-masing.

Manik-manik merupakan aksesoris pengikat yang diletakkan di kepala si penari (Sikerei). Bulu unggas juga diletakkan di kepala, sedangkan dedaunan dipegang di kedua tangan sembari menari, dan juga diselipkan di punggung bagian belakang sebagai ekor. Selain 3 properti ini, Sikerei juga mengenakan berbagai macam motif kalung.

Baca Juga : Tari Lilin

Tujuan Tari Turuk Laggai

Selain memiliki sejarah yang menjadi latar belakang, semua tarian tradisional pasti memiliki fungsi dan tujuan. Tujuan dilakukan Tari Turuk Langgai adalah untuk menghibur roh gaib, agar roh gaib itu tidak meninggalkan yang ada di tubuh pasien. Karena jika roh tersebut pergi, maka si pasien akan meninggal dunia.

Selain itu, tarian khas Mentawai yang satu ini juga berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai luhur untuk semua masyarakat, misalnya seperti nilai persatuan, kemakmuran, cinta kasih dan perdamaian antar suku. Dan juga, selalu dilestarikan agar budaya lokal yang sudah langka tidak hilang ditelan waktu.

Baca Juga : Tari Randai, Antara Pencak Silat & Cerita Dalam Gurindam

Gerakan

Alat musik pengiring Tari Turuk Laggai ini adalah Tuddukat, salah satu alat musik pukul sebagai penyampai pesan di suku Mentawai. Ketika alat ini dipukul, maka para Sikerei / penari akan menjinjit-jinjitkan kakinya, kepala mengadah ke atas, badan dibungkukkan dan tangannya yang memegang dedaunan akan mulai bergoyang.

Kakinya juga dihentak-hentakkan ke lantai secara berirama, sehingga menghasilkan suara ritmis yang beraturan. Semua penari akan berputar-putar dan kadang saling mengejar. Lengkingan Urai (nyanyian) juga akan terdengar sekali-kali keluar dari mulut para Sikerei.

Gerakan Tari Turuk Laggai yang diadopsi dari gerakan hewan, mengimplementasikan bagaimana ketika hewan beraktivitas, misalnya ketika harimau menerkam mangsa, atau hewan yang terbang menyusuri hutan, bahkan gerakan kelinci yang sedang melompat-lompat.

Baca Juga : Tari Tempurung Minangkabau

Cerita Mistis

Bukan Mentawai namanya jika dalam kebudayaan mereka tidak terselip cerita mistis, begitu pula dengan Tari Turuk Laggai ini yang kental dengan kemistisannya. Sejak dulu, Mentawai memang cukup dekat dengan hal-hal yang berbau gaib, terutama hubungan dengan roh halus.

Dalam Tari Turuk Laggai ini, ada istilah “disetujui atau tidak”. Jika upacara disetujui oleh roh-roh halus, maka ia boleh dilanjutkan. Namun jika tidak, akan berisiko didatangi roh-roh jahat yang akan membawa bencana, seperti penyakit hingga kematian. Untuk mengetahui jawaban dari roh, ada pula caranya.

Yakni dari tiga lembar usus ayam. Jika pada usus terlihat bercak hitam, tidak ada tanda-tanda berwarna merah, usus lurus dan bulat segar ketika dibentangkan, artinya roh telah merestui. Maka setelah itu acara boleh dilanjutkan, semua akan baik-baik saja dan tidak akan ada yang sakit.

Baca Juga : Tari Nyiru, Gerakan Menampi Beras Yang Unik

Demikian, ulasan singkat kali ini mengenai Tari Turuk Laggai yang merupakan salah satu Tarian Tradisional asal Sumatera Barat tepatnya di Mentawai. Semoga ulasan di atas bisa bermanfaat dan menjadi referensi utama. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *