Tari Indang, Dakwah Islami Berjiwa Seni

· 4 min read
Tari Indang minang

Tari Indang berasal dari provinsi Sumatera Barat, terlebih di pariaman, menjelma menjadi sebuah tarian tradisional yang populer dan tersohor di Indonesia. “Indang” dalam bahasa Minang berarti rebana kecil. Prosesinya hampir sama dengan Tari Saman dari aceh, namun ini lebih sedikit pelan. Tarian Budaya ini merupakan kombinasi antara Minang dengan Islam.

Tari Indang didominasi oleh gerakan yang lincah, dinamis dan bervariasi. Salah satu gerakan yang menjadi ciri khasnya adalah tepukan tangan dan jentik-kan jari. Prosedurnya dilakukan secara duduk horizontal, dimainkan oleh 7-25 orang dan dibagi menjadi dua baris. Berikut, penjelasan lengkapnya untuk pembaca semua. Semoga bermanfaat.

Sejarah & Asal Usul

Bersumber dari Wikipedia, tarian ini awal mulanya diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin pada abad ke-13 atau 14, dalam rangka menyebarkan agama Islam di seluruh pelosok Sumatera Barat. Di awal-awal kemunculannya, tarian ini difungsikan sebagai media dakwah penyebaran Islam, namun seiring waktu berjalan, beralih fungsi menjadi hiburan.

Dari sumber lain dikatakan, Tari indang disebut juga Tari Dindin-Badindin ini berasal dari para pedagang Arab yang berlabuh di Minangkabau. Kemudian, Rapa’i, tokoh Agamawan pengikut Syekh Burhanuddin mulai memperkenalkan tarian ini dalam perayaan festival Tabuik di Pariaman, yang bertujuan memperingati wafatnya Cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein Bin Ali.

Mulai sejak itu, pementasan Tari Indang selalu diikutsertakan dalam setiap perayaan Tabuik hingga kini. Pada awalnya, Rapa’i menjadikan perkusi seperti rebana atau gendang pipih bundar yang dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya, sebagai alat musik pengiring. Dulu, tarian ini dianggap sakral, mengandung sipatuang sirah dalam setiap kelompok penarinya.

Berbeda dengan sekarang, dulu tarian ini diatur pula waktu pementasannya, ada Indang naik dan adapula Indang Turun. Indang naik dipentaskan pada hari pertama atau awal, yakni malam hari pada jam 11-12 malam. Sedangkan Indang turun dimainkan ketika senja hari atau selepas sholat Maghrib. Namun kini, aturan tersebut tidak berlaku lagi.

Gerakan Tari Indang

Gerakan tari indang
Blogkulo.com

Sama halnya dengan Tari Saman Aceh, tarian ini juga memiliki ragam gerakan yang bervariasi. Karena saat ini mayoritas penampilannya diiringi dengan lagu, sehingga tiap bait lagu memiliki gerakannya sendiri, kecuali di bagian reff, yang memainkan gerakan tepukan tangan. Ada pula gerakan jentikan jari yang menghasilkan nada seirama dengan musiknya.

Gerakan tari indang bersifat lincah, santai, ceria dan dinamis ini memiliki beberapa tahap dan langkah, diantaranya adalah :

  • Pertama, dua kelompok masuk ke pentas atau panggung melalui dua sisi berbeda, kiri dan kanan. Kemudian mulai mengambil posisi yang membentuk dua baris berbanjar.
  • Kemudian, penari akan menyilakan kakinya sembari duduk
  • Lalu, para penari akan meletakkan rebana di hadapan mereka (bagi yang menggunakan rebana)
  • Selanjutnya, masing-masing penari akan berpegangan tangan dan meletakkannya di depan dada mereka
  • Lalu, mulai melakukan gerakan inti Tari Indang yang bervariasi, mulai dari kepala, tangan, dan badan sembari menabuh rebana bagi yang memegangnya (bagi yang menggunakannya)
  • Selain itu, ada pula gerakan yang melambai dan meliuk-liuk ke depan, belakang, samping kiri dan kanan.
  • Ada juga gerakan melipat tangan, mengangkat satu tangan secara horizontal dari siku ke atas, saling bergantian dari tangan kiri ke kanan
  • Dan gerakan-gerakan lainnya.

Untuk bisa menguasai semua gerakannya, para penari membutuhkan latihan yang ekstra dan tidaklah mudah. Meski terkesan sederhana dan dilakukan sambil duduk, namun setiap gerakan memiliki makna yang dalam. Misalnya, gerakan menadahkan tangan dan mengayunkan ke kiri dan kanan, seakan-akan mengimplementasikan bentuk rasa syukur.

Menurut saya, justru karena dilakukan secara duduk ini, maka prakteknya makin sulit. Belum lagi varian gerakan yang banyak, meliuk ke kiri dan kanan secara berirama, dan tentunya dihiasi oleh senyuman manis semua penarinya. Meski dikatakan sederhana, tetapi tetap Rancak atau Indah. Untuk mengehatui info selengkapnya, kamu bisa menontonnya di YouTube.

Pola Lantai Tari Indang

Jika dilihat dari pementasannya, tarian ini secara umum memakai pola lantai Horizontal, berbanjar dari kiri ke kanan. Namun, ada pula yang men-variasikannya dengan membentuk huruf V maupun V terbalik. Ada juga yang melingkar, membentuk zig zag atau selang-seling depan belakang, dan berpasangan dua-dua atau tiga-tiga.

Jumlah Penari Tari Indang sendiri juga tidak selalu sama, umumnya mulai dari 5 orang hingga lebih 25orang. Dulunya, penari yang dibolehkan hanya pria saja, karena ketika itu perempuan tidak boleh memperlihatkan dirinya ke khalayak ramai. Namun kini, sudah bisa dilakukan secara bercampur, dengan menutup aurat.

Properti Tari Indang

Properti tari Indang Minangkabau
Sabitakoyaki.blogspot.com

Properti dalam tarian ini sangat sederhana, ialah Indang itu sendiri, atau rebana pegangan berukuran kecil. Dulu, para penari selalu memakai rebana ini dalam pementasan. Namun kini, lebih sering diletakkan di hadapan mereka, kemudian diganti dengan gerakan tepuk tangan di bagian-bagian lirik tertentu. Selain tepuk tangan, juga ada gerakan menepuk lantai.

Entah sejak kapan peralihan properti ini terjadi. Namun yang pasti, sewaktu teman saya ikut serta menjadi penari dalam tarian ini ketika perpisahan Sekolah Dasar tahun 2008 silam, memang sudah tidak lagi menggunakan properti Rebana, melainkan diganti menjadi tepukan tangan yang menambah kemeriahan.

Busana dan Tata Rias

Busana atau Kostum Tari Indang umumnya menggambarkan dari mana tarian ini berasal. Bagi penari wanita, pastinya mengenakan busana khas Minangkabau atau Melayu, diikuti berbagai macam aksesoris seperti hiasan kepala, baju yang sedikit longgar, celana longgar hitam, dan dibalut dengan sarung khas Minang.

Warna busana yang digunakan juga bebas, baik warna merah, hitam ataupun emas. Yang tidak pernah ketinggalan, penari harus mengenakan jilbab atau penutup kepala, supaya tidak menghilangkan citra awal tarian ini yang dijadikan sebagai media dakwah dalam penyebaran Islam. Dan untuk tukang Dzikirnya, biasanya mengenakan baju Koko.

Untuk tata rias, baik penari pria maupun wanita, tidak terlalu ditentukan seperti apa. Yang jelas enak dipandang dan tidak pula berlebih-lebihan, dalam artian alakadarnya saja. Tata rias tidak tebal, tidak terlalu menor, yang pasti menampakkan keceriaan dan keanggunan. Selain itu, tarian ini umumnya juga dimainkan muda-mudi, jadi tidak perlu berlebihan dalam tata riasnya.

Pementasan & Musik Iringan

Tari dindin badindin sumbar
Detik.com

Sebagai salah satu bentuk dari media dakwah, Pementasan Tari Indang tentunya mengangkat unsur-unsur yang jelas serta memiliki aturan dalam pertunjukannya. Secara umum, tarian ini memiliki beberapa aturan yang harus dipenuhi diantaranya adalah adanya tema, kelihaian penari hingga tata panggung. Panggungnya bisa disetting dengan ukuran 8×6 meter.

Di sisi lain, tak lupa keberadaan Tukang Dzikir dan Tukang Alih. Tukang Dzikir berperan sebagai pembawa lirik atau penyanyi tunggal yang kemudian diituki oleh seluruh penari. Posisinya berada di belakang atau luar panggung dari penari. Sedangkan Tukang Alih, berperan sebagai pengubah atau pengalih gerakan-gerakan tarian, sehingga prosesnya teratur dan tidak ada kesalahan.

Untuk saat ini, Musik Pengiring Tari Indang lebih banyak memakai lagu brrjudul “Dindin Bandingin”, yang dipopulerkan oleh Elly Kasim dan Tiar Ramon, duo musisi Minang legendaris yang sangat terkenal. Tiap bait dalam lagu ini menyesuaikan dengan gerakan-gerakan yang ada pada tarian tersebut, sehingga terkesan lebih ceria dan bergairah.

Baca Juga : Tari Piring Sumatera Barat

Fungsi & Makna Tari Indang

Setiap tari tradisional umumnya memiliki tujuan, fungsi dan makna yang terkandung didalamnya. Meski banyak juga yang mengalami peralihan, namun nilai-nilai darinya akan tetap ada, meski banyak mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.

Nah, Makna yang Terkandung dalam Tari Indang ini mendeskripsikan bagaimana Islam masuk ke Sumatera Barat. Berdasarkan lagu dan gerakannya jika ditelaah dari awal hingga akhir, menceritakan kebesaran Islam serta kisah kedatangan Islam ke tanah Minang ini. Intinya, tarian ini bermakna penyebaran Islam di tanah Minang.

Saat ini, Tari Indang berfungsi sebagai media hiburan, kamu bisa menyaksikan penampilannya di berbagai acara, seperti pesta pernikahan, upacara adat, festival Tabuik Pariaman, pengangkatan penghulu, pentas seni dan lain sebagainya.

Baca Juga Tarian Lainnya :

Penutup

Demikianlah, ulasan singkat kali ini mengenai Tari Indang (Dindin-Badindin), sebagai salah satu Tarian Daerah Minangkabau beserta properti, busana, sejarah, makna & fungsi, gerakan hingga musik pengiring. Semoga ulasan di atas bisa bermanfaat dan terima kasih.

19 Replies to “Tari Indang, Dakwah Islami Berjiwa Seni”

  1. Piece of writing writing is also a fun, if you be familiar with afterward you can write if not it is complicated to write. Anny My Melva

  2. Hello! I could have sworn I’ve been to this blog before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely happy I found it and I’ll be book-marking and checking back frequently!

  3. If you want to obtain a great deal from this paragraph then you have to apply such techniques to your won weblog. Berry Osmund Waldo

  4. Hello! I could have sworn I’ve been to this blog before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely happy I found it and I’ll be book-marking and checking back frequently!

  5. Hello! I could have sworn I’ve been to this blog before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely happy I found it and I’ll be book-marking and checking back frequently!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.