Makan Bajamba, Tradisi Makan Bersama Sejak Abad Ke-7

· 4 min read
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba – Minangkabau merupakan suku yang berasal dan mendiami provinsi Sumatera Barat. Sebagai salah satu suku yang berusia sudah tua, cukup banyak adat dan Upacara Kebudayaan Di Minangkabau yang populer, dan masih ada hingga sekarang ini, salah satunya adalah Tradisi Makan Bajamba.

Makan Bajamba adalah contoh tradisi dari daerah Sumatera Barat, yakni duduk bersama di suatu ruangan, berkumpul kemudian Makan bersama-sama. Tradisi ini ditujukan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama manusia, dan juga sebagai bukti keakraban di suku Minang.

Jika ditanya Kapan masyarakat Minangkabau melakukan tradisi Makan Bajamba ini, maka jawabannya adalah ketika menyelenggarakan perayaan-perayaan hari besar seperti acara besar Islam, upacara adat, pesta adat, dan pertemuan penting lainnya di Provinsi Sumbar. Berikut, penjelasan selengkapnya untuk kamu semua.

Sejarah Makan Bajamba

Sejarah Makan bersama di Sumatera barat
Phinemo.com

Berdasarkan dari beberapa informasi yang saya dapatkan, Tradisi Makan Bersama ini telah ada sejak abad ke-7 Masehi, dan pertama kali dilakukan di daerah Koto Gadang, di Luhak  nan tangah, yang sekarang kita kenal dengan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Budaya ini mengikuti sunnah Rasulullah Saw yang ketika makan selalu bersama-sama. Jika dilihat dari sejarah, upacara adat Makan Bajamba ini sesuai dengan Teori Makkah yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7, melalui perantara pedagang-pedagang Arab di semenanjung Sumatera.

Tradisi ini akan dilakukan setelah acara-acara adat selesai diselenggarakan, seperti ketika pesta perkawinan, pengangkatan penghulu, acara-acara besar agama Islam dan lain sebagainya. Tradisi Makan Bersama berbentuk melingkar yang terdiri dari 3-7 orang, kemudian nasi dan lauk pauk diletakkan di tengah.

Baca Juga : Tradisi Mandi Balimau

Prosesi / Penyelenggaraan

Penyelenggaraan tradisi ini memiliki makna tersendiri yang dalam dan penuh arti. Bayangkan, dalam 1 dulang makanan, kita kadang duduk melingkar dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Sehingga, memunculkan rasa kebersamaan tanpa memandang status maupun gender.

Nah, bagi yang belum tahu, arti Jamba adalah Dulang. Dulang ini terbuat dari anyaman daun, di bawa oleh kaum perempuan di atas kepalanya, ditutup dari tudung saji yang terbuat dari anyaman daun enau, dan diatasnya dilampiri dengan dalamak, kain bersulam benang emas. Perempuan itu membawanya sampai ke tempat kegiatan dilakukan.

Acara ini biasanya diadakan di dalam ruangan besar / aula / gedung, dan diikuti mulai dari puluhan hingga ribuan orang. Setelah sampai ke tempat tujuan, Jamba diletakkan di tiap-tiap lingkaran orang, setiap lingkaran mempunyai 1 hamba ditengah-tengahnya.

Di atas jamba tersebut, tersedia pinggan nasi, dan piring-piring yang berisi berbagai jenis makanan khas Minangkabau untuk disantap bersama-sama. Sebelum ajang santap dimulai, biasanya didahului dengan berbagai acara kesenian, seperti tarian daerah, berbalas pantun dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Untuk menu hidangannya, dikenal dengan nama “Samba Nan Salapan”, yakni 8 jenis makanan, diantaranya gulai ayam, rendang, asam padeh (anyang), gulai babat (paruik lauak), karupuk tunjuk balado, terung buat digoreng pakai cabe, pergedel, dan ikan pang.

Perayaan Tradisi Makan Bajamba terbesar yang pernah dilakukan adalah, ketika ulang tahun kota Sawahlunto yang ke-123. Peserta yang mengikutinya adalah berjumlah lebih dari 16 ribu orang, hingga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai ajang makan bersama terbanyak dan terpanjang.

Baca Juga : Tradisi Tabuik Pariaman

Adab Makan Bajamba

Adab makan bajamba di Minangkabau
Bukittinggikota.go.id

Meski hanya berupa makan bersama, namun nyatanya tradisi ini mempunyai beberapa adab yang kemudian menjari aturan-aturan yang wajib dipenuhi. Ini juga termasuk upaya dalam menjaga keberadaan dan melestarikan tradisi Makan Bajamba di Minangkabau. Adab-adab dalam tradisi ini secara umum mengikuti ajaran Islam. Berikut, beberapa diantaranya :

Mendahulukan Yang Lebih Tua

Orang yang lebih muda harus mendahulukan yang lebih tua untuk mengambil makanan, sebagai penghormatan kita kepada orang yang lebih tua, yang tentunya juga lebih dahulu merasakan asam dan garam dalam kehidupan.

Dilarang Mengambil Makanan Lain

Adab dalam Makan Bajamba selanjutnya adalah, kita hanya bisa mengambil makanan yang ada di hadapan kita saja, dilarang untuk mengambil jatah dari lingkaran orang lain. Jika di lingkaran kita sudah habis, artinya makan selesai. Ini bermakna rasa syukur atas nikmat yang diberikan, dan jangan rakus jadi orang.

Cara Menyuap Nasi

Cara menyuap nasi ketika melangsungkan tradisi ini juga berbeda loh. Ketika makan, kita hanya boleh mengambil satu suap kemudian diikuti dengan lauk pauknya. Kemudian, nasi dimasukkan ke dalam mulut dengan cara sedikit dilempar dari jarak dekat. Tangan kiri menampung untuk mengantisipasi nasi terjatuh ke bawah.

Selain menghindari nasi tercecer, aturan ini juga supaya orang lain tidak menjadi jijik karena ada nasi yang terjatuh. Sehingga, nasi itu harus segera kita ambil dengan tangan kanan, kemudian dimasukkan kembali ke mulut kita. Untuk posisi duduk, punggung kita juga harus tegap, tidak membungkuk.

Cara Duduk

Terdapat sedikit perbedaan tentang cara duduk ketika Makan Bajamba bagi kaum pria dan wanita. Untuk pria, mereka harus duduk bersila (Baselo) dengan badan yang tegap. Sedangkan kaum wanita, duduk makan dengan cara bersimpuh, yakni selayaknya duduk diantara dua sujud pada gerakan sholat.

Makanan Harus Habis

Adab yang terakhir adalah, semua makanan yang ada dalam Jamba pada tiap-tiap lingkaran wajib dihabiskan, tidak ada yang boleh tersisa meskipun hanya sebiji nasi atau sekeping lauk. Semuanya harus habis dan bersih dari jamba. Ini juga merupakan cara kita menghormati orang yang sudah memasaknya, dan juga bermakna rasa terima kasih kepada mereka.

Baca Juga : Upacara Turun Mandi, Bentuk Syukuran Atas Kelahiran Anak

Tujuan Makan Bajamba

Tradisi ini hingga sekarang masih terus dilakukan ketika menyelenggarakan berbagai kegiatan adat dan keagamaan, meskipun di beberapa daerah telah terjadi sedikit pergeseran tata cara, terutama dalam hal penyajian. Nah, beberapa Manfaat Makan Bajamba ini diantaranya adalah sebagai berikut :

Menghormati Yang Lebih Tua

Orang Minang sangat menjunjung tinggi rasa penghormatan kepada mereka yang lebih tua. Dalam tradisi ini, yang didahulukan untuk mengambil makanan di dalam Dulang adalah orang yang lebih tua dari segi umur. Setelah itu, bergiliran hingga ke yang paling muda.

Melatih Diri Untuk Bersyukur

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kita tidak boleh mengambil makanan yang tidak berada di lingkaran kita. Untuk itu, hal ini akan melatih diri agar senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita, tidak mengutamakan nafsu dan kerakusan semata.

Bagus Untuk Kesehatan

Seperti yang kita tahu, Makan Bajamba ini tidak pakai sendok ataupun garpu, semuanya memakai tangan kanan. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa makan pakai tangan kosong lebih dianjurkan dibanding memakai alat bantu. Selain itu, juga menghindari cedera pada mulut karena terkena sendok ataupun garpu tersebut.

Sesuai Sunnah Nabi

Tradisi ini merupakan salah satu bentuk penerapan dari simbol hidup orang Minang, yakni “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” dimana adat minang bersumber dari agama islam, terutama Sunnah Nabi. Karena seperti yang kita tahu, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah makan sendiri.

Melestarikan Budaya

Tradisi Makan Bajamba telah ada sejak abad ke-7 Masehi, artinya sudah berusia sangat tua. Jika tidak diselenggarakan terus-menerus, kemungkinan besar budaya ini akan hilang ditelan waktu. Untuk itu, pengadaan kegiatan ini secara bertahap akan selalu menghidupkannya sampai kapanpun.

Baca Juga : Tradisi Pacu Jawi, Balapan Sapi Dari Bumi Tanah Datar

Penutup

Demikian, ulasan singkat kali ini mengenai Tradisi Makan Bajamba di Minangkabau beserta sejarah, adab, tata cara penyelenggaraan hingga fungsi dan tujuannya. Semoga informasi di atas bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang budaya di Indonesia. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.