Upacara Tabuik, Tradisi Yang Dikaitkan Dengan Aliran Syi’ah ?

· 5 min read
Upacara Tabuik Pariaman

Upacara Tabuik – Provinsi Sumatera Barat terkenal dengan Adat dan kebudayaan mereka yang sangat tersohor dan terkenal. Setiap ada perhelatan Akbar di Minang, selalu dipenuhi wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Nah, salah satu Upacara Adat Sumatera Barat yang terkenal adalah Festival Tabuik Pariaman.

Upacara Tabuik berasal dari provinsi Sumbar, diselenggarakan sekali dalam setahun, setiap tanggal 10 Muharram. Lalu, bagaimana sejarah kemunculannya? Bagaimana tahapan-tahapannya? Apa saja syarat dan seperti apa kemeriahannya? Simak selengkapnya dalam artikel ini. Silakan baca sampai selesai dan semoga bermanfaat. Check this out…

Sejarah Upacara Tabuik

Upacara Adat Tabuik merupakan tradisi Budaya dari provinsi Sumbar, tepatnya di Pariaman. Berdasarkan beberapa sumber, festival besar tahunan ini sudah ada sejak abad ke-19. Namun jika disimak dari cerita masyarakat yang tersebar secara turun-temurun, maka upacara ini lahir tahun 1826 hingga 1828 Masehi.

Kabarnya, golongan pertama yang membawa tradisi ini adalah orang-orang dari India penganut Syiah. Kemudian di tahun 1910, diadakan kesepakatan antar pemuka suku mengenai tradisi ini, akhirnya dikeluarkan kesepakatan untuk menyelaraskan upacara ini dengan adat dan budaya yang berlaku di Minangkabau.

Upacara Tabuik sendiri diadakan setiap tanggal 10 Muharram, yakni untuk memperingati hari wafatnya salah satu cucu Rasulullah SAW yakni Hussein bin Ali, yang syahid di medan perang Karbala. Kata “Tabuik” diambil dari bahasa Arab yakni “Tabut” atau peti kayu. Untuk jenisnya, terdiri dari 2 macam, yakni Tabuik Pasa dan Subarang.

Berdasarkan beberapa kisah, peti kayu (Tabut) yang berisi potongan-potongan jenazah Sayyidina Husein dibawa terbang ke langit oleh Buraq. Berdasarkan sejarah ini lah, masyarakat Pariaman membuat tiruan Buraq yang sedang mengangkut peti kayu di punggungnya.

Oh iya, Perayaan Festival Tabuik yang pertama adalah jenis Tabuik Pasa, yang berlokasi di sekitar wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang membelah kota, sampai ke tepian Pantai Gandoriah. Sedangkan Tabuik Subarang berlokasi di bagian utara dari sungai yakni Kampung Jawa.

Urutan Upacara Tabuik

sejarah Tabuik yang melegenda
Indonesiakaya.com

Setelah menyimak mengenai sejarah dan cerita dibalik Asal-Usul Upacara Tabuik di Pariaman, sekarang mari kita simak bagaimana tata cara urutan pelaksanannya. Sebenarnya, upacara ini telah dimulai sejak tanggal 1 Muharram, yakni tahun baru Islam, namun pundaknya ada di tanggal 10 Muharram, begitu pula orang-orang yang datang menyaksikan.

Prosesi Upacara Tabuik memiliki 8 tahapan yang disebut dengan ritual, urutannya adalah sebagai berikut :

  1. Mengambil tanah
  2. Menebang batang pisang
  3. Maatam
  4. Mengarak jari-jari
  5. Mengarak sorban
  6. Tabuik naik pangkek
  7. Hoyak tabuik
  8. Membuang tabuik ke laut.

Ritual pertama adalah mengambil tanah, yang dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram. Tanah yang diambil diletakkan di dalam Periuk dari tanah, dan dibungkus dari kain putih. Lalu, disimpan di Lalaga dan diletakkan di halaman rumah Tabuik. Lalaga sendiri adalah tempat berukuran 3×3 meter yang dipagari dengan parupuk, sejenis bambu kecil.

Ritual selanjutnya yakni menebang batang pisang yang dilakukan tanggal 5 Muharram. Pada penebangan ini ada pula aturannya, yakni tebasan harus 1 kali saja langsung putus, dan dilakukan pada malam hari. Kabarnya, hal ini melambangkan balas dendam salah putra Sayyidina Husein atas kematian bapaknya.

Tahap Upacara Tabuik berikutnya yakni Maarak Sorban dan Maatam yang dilakukan tanggal 7 dan 8 Muharram. Maarak Sorban simbol diaraknya bekas sorban Sayyidina Husein yang menyiarkan keberanian beliau. Sedangkan Maatam adalah personifikasi membawa jari-jari Imam Husain yang berserakan ditebas pasukan Raja Yazid.

Berikutnya adalah Ritual Tabuik naik pangkek, yang diselenggarakan pada hari puncak yakni 10 Muharram, namun di waktu paginya. Setelah itu dilaksanakan ritual hoyak Tabuik, barulah di sore hingga magrib, Tabuik diarak dan dihanyutkan ke laut. Sekarang, perayaan ini bisa dilaksanakan dari tanggal 10-15 Muharram.

Keunikan Upacara Adat Tabuik

Tidak bisa dipungkiri bahwa, Perayaan Upacara Tabuik di Pariaman Sumatera Barat ini sangat terkenal dan selalu dibanjiri pengunjung yang ingin menyaksikan kemegahannya. Mulai dari kalangan fotografer, pelajar, keluarga, para pejabat hingga artis tidak mau ketinggalan momen tahunan satu ini.

Bahkan, di lokasi utamanya yakni Pantai Gondariah, tempat ini ibarat lautan manusia, yang dihadiri puluhan ribu orang dari berbagai daerah di Indonesia, hingga dari luar negeri. Saat ini, festival kebudayaan Tabuik tidak hanya sebagai upacara daerah, tetapi juga dijadikan komoditas pariwisata di Pariaman, sekaligus memperkenalkan potensi daerah.

Selain menyaksikan kesemarakannya, upacara ini juga diikuti oleh berbagai hal berbau kesenian, salah satunya adalah penampilan kesenian gendang Tasa, yang dikenal dengan nama Gendang Tabuik. Formasi personilnya berlapis dan terdiri dari 7 orang. Jika ada penabuh yang lelah, maka akan digantikan oleh yang lainnya secara terus-menerus.

Di hari puncak, para pengunjung dan wisatawan juga bisa menikmati berbagai macam kuliner khas Sumbar yang terkenal dengan rasa dan aroma yang khas, hingga membeli oleh-oleh berupa aksesoris dan souvernir asli buatan masyarakat setempat. Selain itu, juga bisa menyaksikan berbagai acara seni dan budaya lainnya.

Baca Juga : Tradisi Mandi Balimau

Bentuk Tabuik Pariaman

Festival Tabuik Sumatera barat
Phinemo.com

Jika kamu berkunjung ke Pariaman lebih cepat dengan tujuan menyaksikan Upacara Tabuik, kamu bisa menyaksikan masyarakat yang bergotong-royong membuat Tabuik ini. Lalu, seperti apa bentuk, bagaimana cara membuat dan ukurannya berapa ?

Jika dilihat dari bentuknya, Bentuk Tabuik ini mempunyai dua bagian yakni atas dan bawah, dengan tinggi yang bisa mencapai 12 meter. Bagian atas ini mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi bunga dan kain beludru dengan warna bervariasi. Sedangkan pada bagian bawahnya berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia.

Bagian bawah ini mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya telah membawa Sayyidina Hosein ke langit menghadap Yang Maha Kuasa. Nah, kedua bagian Tabuik ini nantinya akan disatukan dengan cara bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala.

Pada bagian atasnya lagi, dipasang beberapa hiasan bermotif payung, yang berbentuk Tidung saji, terbuat dari kain yang diberi hiasan beragam untuk menambah keindahannya. Payung-payung ini terdapat di sekujur bagian Tabuik, dan yang paling besar terdapat di bagian puncak yang tegak lurus.

Baca Juga : Pacu Jawi, Tradisi Tahunan Populer Di Sumbar

Makna Tradisi Tabuik

Secara garis besar, Upacara Tabuik bermakna sebagai ajang dalam mengenang perjuangan Imam Husein cucu Rasulullah SAW dalam membela agama Islam. Selain itu, juga menjadi simbol peti kayu tempat dikumpulkannya bagian tubuh Imam Husein yang diangkat dibawa Buraq ke langit.

Menurut Vina Dwiyanti (2015) dalam jurnal “Makna Simbolik Upacara Tabuik di Kota Pariaman“, menyatakan bahwa Makna Tradisi Tabuik ini menggambarkan pola hidup dan sikap masyarakat di Pariaman. Upacara tahunan ini menggambarkan bagaimana masyarakat setempat sangat berduka dan bersedih atas syahidnya Imam Husein di perang Karbala.

Selain itu, di dalam perhelatan acara ini juga mengandung unsur-unsur budaya Minang, diantaranya bungo salapan, tonggak atam, tonggak serak, jantuang-jantuang, pasu-pasu, dan ula gerang, yang menjadi peprpaduan antara adat dan agama. Banyaknya orang yang hadir juga melambangkan persatuan tanpa memandang suku, ras, asal, bahasa dan lainnya.

Jadi, selain sebagai destinasi pariwisata, Upacara Tabuik juga merangkul berbagai makna yang saling berkaitan, mulai dari agama, adat hingga persatuan sesama manusia. Di sisi lain, juga bermakna gotong royong dari masyarakat setempat yang menyelenggarakan acara dari awal sampai selesai.

Baca Juga : Upacara Turun Mandi Di Minangkabau, Syukuran Atas Kelahiran Bayi

Pro & Kontra Festival Tabuik

Tradisi Tabuik di minangkabau
Helloindonesia.id

Sejak dahulunya, upacara Tabuik ini sudah menuai kontroversi pada beberapa kalangan. Berbagai spekulasi dan pendapat juga bermunculan mengenai apakah tradisi ini beraliran Syi’ah atau tidak. Karena kita tahu, upacara ini merupakan peringatan Hari Asyura yang lazim dilakukan oleh umat Syiah, di tempat lain di dunia.

Dikatakan ajaran Syi’ah karena hari Asyura yang dirayakan oleh umat Syiah di dunia, seperti di negera Irak, Iran dan Timur Tengah lainnya, juga sebagai bentuk duka cita atas wafatnya Imam Husein, yakni panutan mereka. Nah, sedangkan masyarakat Sunni di Pariaman memperingatinya dengan berpesta.

Ini juga diungkapkan oleh Effendi Jamal, yang pernah menjadi panitia Upacara Tabuik, sekaligus kepala dinas Pariwisata Kota Pariaman, pada perayaan tahun 2015 silam, “Tak ada kaitannya dengan agama. Ini murni kegiatan pariwisata,” ungkapnya. “Kami bahkan menolak Syiah di wilayah ini..” tuntasnya.

Selain itu, sempat beredar kepingan video ceramah dari Ustadz Jel Fathullah dan Ustadz Abdul Somad, yang mengatakan bahwa upacara akbar di Pariaman tersebut merupakan ajaran Syi’ah, serta mengajak masyarakat untuk tidak ikut serta menghadiri dan meramaikan festival tersebut.

Kemudian, pernyataan tersebut disanggah langsung oleh Walikota Pariaman, Mukhlis Rahman, pada sesi wawancara yang diadakan ketika pesta Tabuik berlangsung, tanggal 11-23 September 2018. Beliau mengatakan bahwa tidak ada unsur agama didalamnya, melainkan hanya pesta tradisi.

Beliau juga menjelaskan bahwa upacara ini hanya sebatas event pariwisata, untuk memancing wisatawan lokal maupun mancanegara agar datang ke Pariaman, karena akan bisa meningkatkan brand produk, kuliner, objek wisata dan perekonomian masyarakat sekitar.

Nanun, terlepas dari itu semua, saya selaku penulis tidak bisa memberi penjelasan yang valid dan bisa diterima oleh siapapun, mengenai pro dan kontra ini. Saya hanya bisa memberi beberapa gambaran dan pernyataan yang bertentangan, kemudian kamu bisa menyimpulkan sendiri.

Baca Juga : Makan Bajamba, Tradisi Makan Bersama Bermakna Kebersamaan

Demikianlah, ulasan singkat kali ini mengenai Upacara Tabuik Pariaman beserta sejarah, tata cara pelaksanaan, makna dan lainnya. Semoga bisa bermanfaat dan menjadi referensi utama. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.