Pacu Jawi, Tradisi Balap Sapi Kebanggaan Orang Minang

· 5 min read
Tradisi pacu jawi

Pacu Jawi – Sumatera Barat memiliki tradisi dan Budaya yang sangat beragam. Dari dulu hingga kini, berbagai tradisi adat tersebut masih diselenggarakan di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, dan selalu mampu mengundang Wisatawan baik dari dalam maupun luar daerah, salah satunya adalah Berpacu dengan Jawi.

Pacu Jawi adalah sebuah atraksi permainan tradisional berupa Pacu sapi yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Tradisi ini dilakukan setiap tahunnya. Berikut, ulasan mengenai sejarah, makna, filosofi dan tujuannya buat kalian semua. Silakan disimak sampai selesai dan Semoga Bermanfaat.

Sejarah Pacu Jawi

Sebagai salah satu Upacara Adat Sumatera Barat yang sangat ternama, Pacu Jawi telah ada sejak berabad-abad lalu. Permainan ini awalnya dilakukan setelah panen padi di kabupaten Tanah Datar, terutama di kecamatan Sungai Tarab, Pariangan, Lima Kaum, dan Rambatan.

Dahulunya, permainan ini hanya dilakukan dua kali dalam satu tahun, menyesuaikan siklus panen ketika itu. Namun karena sekarang siklusnya lebih pendek, acaranya diadakan lebih sering. Syarat utama sebelum menyelenggarakan acara pacu Jawi adalah, Gunung Marapi yang tingginya 2.891 meter harus sedang terlihat jelas.

Penemu Pacu Jawi adalah datuak (Dt) Tantejo Gurhano. Dt. Tantejo Gurhano merupakan orang tetua yang arif dan bijaksana. Dt Tantejo Gurhano mencari cara agar sawahnya menjadi subur dan mudah ditanami. Caranya adalah dengan membajak sawah menggunakan jawi.

Hingga akhirnya, permainan yang sudah berusia sangat tua ini dijadikan sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang bagi masyarakat setempat setelah panen padi berlangsung. Acara ini memang sudah digemari sejak awal kemunculannya, hingga saat ini.

Filosofi Pacu Jawi

Filosofi pacu Jawi Sumatera Barat
Pixabay.com

Setiap kegiatan Adat di setiap daerah pasti memiliki kandungan filosofinya tersendiri, begitu pula dengan atraksi Pacu Jawi di Minangkabau. Permainan ini memiliki filosofi bahwa antara pemimpin dan rakyat biasa, yang memiliki kedudukan, wewenang dan hak yang berbeda bisa berjalan serta berdampingan bersama.

Di setiap potret mengenai permainan ini yang kita temukan di Internet atau media sosial, menggunakan 2 ekor sapi yang bergandengan. Bukan tanpa sebab, tetapi menjadi simbol antara pemimpin dan rakyat biasa, yang sama-sama bergerak dan berjuang menuju kemakmuran serta kesejahteraan.

Filosofi Pacu Jawi juga terlihat dari sistem penilaiannya. Yang mendapat nilai tertinggi bukanlah sapi yang paling cepat atau yang pertama sampai ke garis finish, melainkan sapi yang berlari lurus hingga akhir. Dari sini bisa kita ambil hikmah bahwa lebih baik mengutamakan keselamatan daripada tergesa-gesa tetapi celaka.

Selain itu, Pacuan Sapi ini dilakukan sendiri-sendiri tiap peserta, artinya tidak dilaksanakan sekaligus seperti perlombaan pada umumnya. Setelah 1 peserta selesai, barulah peserta lainnya tampil. Ini untuk menghindari adanya unsur taruhan atau perjudian dalam tradisi ini.

Aturan Permainan Pacu Jawi

Yang namanya permainan pasti memiliki aturan dan ketetapan yang berlaku. Sekalipun ini permainan adat dan susah tua, namun karena eksistensinya yang selalu terjaga, tentunya pihak penyelenggara tidak ingin para penonton kecewa karena tidak adanya aturan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum ikut serta dalam permainan tradisi Pacu Jawi adalah mengenal kapan waktunya, apa syarat ikut serta dan bagaimana sistem penilaiannya.

Waktu Penyelenggaraan

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa, permainan ini awalnya diadakan 2x dalam setahun berdasarkan siklus panen padi. Namun karena siklus semakin lama semakin pendek, akhirnya sekarang diadakan hingga 3 kali dalam setahun.

Selain itu, sebelum acara ditetapkan waktunya, saat itu gunung Marapi juga harus sedang terlihat jelas. Menurut kabarnya, gunung tersebut merupakan asal orang Minang yang kini mendiami Sumatera Barat. Jadi, ketetapan ini untuk menghormati nenek moyang pendahulu.

Syarat Bermain

Permainan Pacu Jawi dilakukan di area persawahan yang baru selesai panen, kemudian dibuat menjadi genangan air dengan kedalaman 4-10 cm. Syarat utama permainan ini adalah, penunggang Jawi harus orang dewasa, sehat dan berakal. Selain itu, umumnya si joki merupakan petani yang sudah mahir mengendalikan sapi ketika membajak sawah.

2 ekor sapi yang dikendarai tersebut disatukan dan diikat dengan alat bajak sawah, biasanya terbuat dari bambu yang nantinya digunakan sebagai alat berpijak sebelum mulai, dan tempat joki berdiri untuk mengatur laju sapi. Si joki biasanya akan bergantung atau berpegangan ke ekor sapi yang berada di depan kiri dan kanannya.

Sebenarnya, permainan ini cukup berbahaya dilakukan jika belum senior atau berpengalaman. Perlu belajar terlebih dahulu agar bisa aman dan selamat. Salah satu tips bagi joki agar tidak terjatuh adalah, bungkuk-kan badan ke depan, kepala berada diantara sapi, lalu pegang dengan kuat.

Bahkan, para joki akan mengigit ekor sapi agar bisa berlari lebih kencang lagi. Namun yang paling sulit adalah menyeimbangkan ritme lari kedua ekor sapi. Karena jika tidak seimbang, bisa-bisa oleng dan akhirnya berbelok ke luar jalur, hingga berakibat terjatuh dan fatal.

Sistem Penilaian

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, permainan tradisi populer ini tidak dimainkan seperti perlombaan pada umumnya, yang dilaksanakan secara berbarengan dengan peserta lain, namun sendiri-sendiri secara bergiliran. Tujuannya untuk menghindari adanya tindak perjudian.

Jadi, sistem penilaian Pacu Jawi juga tentunya berbeda. Penilaian untuk menentukan siapa juaranya dari permainan ini adalah, peserta dengan sapi mana yang berlari paling lurus mengikuti sirkuit hingga ke garis finish.

Fungsi Pacu Jawi

Fungsi pacu Jawi minangkabau
Pixabay.com

Selain sebagai upaya untuk senantiasa melestarikan dan menghidupkan tradisi ini, Pacu Jawi ternyata juga memiliki beberapa manfaat lain, diantaranya adalah sebagai berikut :

Ajang Mempertahankan Tradisi

Semakin berkembangnya zaman, tidak sedikit tradisi adat dan budaya yang perlahan hilang ditelan waktu. Untuk itu, permainan ini selalu diselenggarakan sebagai upaya dalam mempertahankannya ditengah kemajuan zaman seperti yang kita rasakan seperti sekarang ini.

Media Silaturahmi

Permainan Pacu Jawi sangat populer, sehingga tidak heran kenapa selalu mampu mendatangkan banyak sekali penonton dari dalam maupun luar daerah. Begitu pula para wisatawan yang bahkan dari mancanegara. Awalnya mereka tidak saling mengenal, namun karena sama-sama menonton, akhirnya saling tegur sapa dan akrab.

Sebagai Hiburan

Manfaat lainnya adalah sebagai media hiburan. Permainan ini memang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Jika kamu menyaksikannya secara langsung, kamu akan melihat bagaimana bahagianya para penonton ketika sapi mulai berlari. Mereka akan saling bersorak-sorai menyemangati para joki.

Meningkatkan Perekonomian

Selain sebagai hiburan, kegiatan tradisi Pacu Jawi ini juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Selama acara berlangsung, akan banyak sekali orang yang memanfaatkan momen ini untuk mencari rezeki, seperti berdagang, menjual aksesoris atau souvernir hingga jasa tukang parkir.

Meningkatkan Nilai Jual Sapi

Ajang rutin ini juga bisa meningkatkan harga jual sapi di pasaran, yang akhirnya berdampak pada perekonomian masyarakat. Selain itu, juga untuk meningkatkan kesehatan sapi, mereka akan semakin sehat karena berpacu di arena. Selain itu, sapi juga biasanya dirawat dengan baik sebelum mengikuti perlombaan.

Selain fungsi, ada juga beberapa Nilai yang terkandung dalam Tradisi Pacu Jawi ini, diantaranya adalah nilai kerja sama, seni, budaya, budaya hingga nilai ketertiban.

Baca Juga : Tradisi Mandi Balimau

Keunikan Tradisi Pacu Jawi

Menjadi salah satu tradisi rutin yang populer, permainan ini tentu tidak lepas dari keunikan yang terkandung didalamnya, sehingga mampu mendatangkan wisatawan yang banyak setiap kali event ini digelar pada 4 kecamatan di kabupaten Tanah Datar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Keunikan yang ada sekaligus juga menjadi pembeda dengan tradisi berupa perlombaan-perlombaan lainnya di Sumbar, maupun provinsi lain. Salah satu yang menonjol adalah tentang penilaian. Yang dinilai bukanlah yang tercepat, melainkan sapi yang berlari lurus mengikuti jalur.

Dibalik aturan penilaian yang unik ini, ternyata juga mengandung makna maupun filosofi, yakni barang siapa yang berjalan lurus mengikuti ajaran Nabi dan Rasulnya, maka ia akan selamat dan menjadi pemenang. Berbeda dengan mereka yang tergesa-gesa, misalnya ingin meraih harta, namun memakai jalan yang tidak lurus.

Keunikan yang menjadikan tradisi Pacu Jawi ini menjadi unggulan adalah, sangat jarang sekali dalam setiap perlombaannya mengandung unsur perjudian, itulah mengapa ditetapkan aturan untuk setiap joki, yang melaju secara sendiri-sendiri dan bergantian dengan joki yang lainnya.

Baca Juga : Upacara Tabuik Di Minangkabau

Popularitas Permainan Pacu Jawi

Popularitas Permainan Pacu Jawi
Pixabay.com

Event yang diselenggarakan 3x atau lebih dalam setahun ini memiliki popularitas yang tinggi diantara tradisi lainnya di Sumbar, ini juga disebabkan karena kegiatannya yang memang sangat menghibur dan mengasyikkan, serta selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat.

Popularitasnya semakin naik ketika kegiatan ini menjadi incaran para fotografer dari dalam maupun luar negeri. Beberapa jepretan berupa Gambar Pacu Jawi pernah mendapat penghargaan seperti World Press Photo of the Year, Hamdan International Photography Award, dan Digital Camera Photographer of the Year oleh koran The Daily Telegraph.

Selain itu, area penyelenggaraannya yang berada di lumpur dengan cipratan tanah basahnya, juga menjadi daya tarik sendiri, belum lagi ekspresi para joki ketika sedang berpacu di area. Dan juga, pemandangan alam Tanah Datar yang sangat eksotis dan indah, diantaranya Gunung Marapi, perbukitan, lembah, persawahan dan lainnya.

Baca Juga : Tradisi Makan Bajamba, Ajang Menyantap Kuliner Khas Minang

Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Pacu Jawi

Dalam pelaksanaan acara ini, ada beberapa tahap yang dilakukan dari mulai persiapan hingga penutup. Urutannya adalah sebagai berikut :

Tahap Persiapan

Di tahap pertama ini, masyarakat setempat akan berbondong-bondong untuk bekerjasama untuk mencari dan menentukan lokasi atau lahan untuk kegiatan Pacu Jawi, mencari air dan menghaluskan lahan. Kemudian membersihkan area pacu hingga melancarkan saluran air. Setelah selesai, masyarakat juga akan bergotong royong meratakan sawah untuk ditanam kembali.

Tahap Pelaksanaan

Di tahap ini, urutan pelaksanaannya yang pertama adalah Pembukaan. Acara ini akan dimulai lewat sepatah dua kata dari Kepala Dinas atau pemerintah Daerah, dan juga di hadiri oleh tokoh adat serta pemuka masyarakat. Acara dilaksanakan secara berurutan dan bergilir di 4 kecamatan, yakni Sungai Tarab, Pariangan, Lima Kaum dan Kecamatan Rambatan.

Badan yang mengatur jadwal kegiatan Pacu Jawi adalah PORWI (Persatuan Olahraga Pacu Jawi). PORWI merupakan sebuah organisasi yang mengatur tentang jadwal Pacu Jawi. Untuk informasi lengkapnya bisa kamu lihat di website Pacujawi.com, namun sepertinya website tersebut sudah tidak aktif lagi.

Tahap Penutup

Setelah event selesai, maka masuk ke tahap penutup yang pastinya lebih meriah dibanding pembukaan. Di tahap ini, akan ada berbagai penampilan kesenian dari masyarakat setempat, mulai dari tarian tradisional, pentas seni alat musik, hingga pidato-pidato dari tokoh-tokoh penting.

Pawai

Terakhir adalah Pawai. Sapi yang menjadi juara akan diarak keliling kampung. Tidak sampai di situ, sapi yang menang juga akan didandani dan dipakaikan Suntiang. Kamu tidak akan menemukan sapi yang didandani Suntiang selain di acara ini.

Penampilan Kesenian

Event ini akan diakhiri dengan berbagai penampilan kesenian dari masyarakat setempat, mulai dari penampilan tari piriang, talempong pacik, aguang, hingga kepandaian para niniak mamak dalam berdialog, menyampaikan pepatah petitih Minang dan sebagainya.

Baca Juga : Upacara Turun Mandi Di Minangkabau


Demikianlah, ulasan singkat kali ini mengenai tradisi Pacu Jawi di Sumatera Barat. Semoga ulasan di atas bisa bermanfaat. Terima kasih. (Ref).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *